Matsuyama Kenichi's Profile






Nama:Matsuyama Kenichi 松山ケンイチ
Zodiak:Pisces
Tanggal lahir: 5 Maret 1985
Tempat lahir:Mutsu,Aomori Japan
Tipe darah: B
Tinggi::180cm
Berat::60kg




Olahraga kegemarannya adalah lompat galah
sewaktu di sekolah menengah pertama Kenichi-kun pernah menduduki
urutan ke 4 cabang lompat galah dalam pesta olaraga
tingkat daerah di Tohoku. Selain itu Kenichi-kun juga bisa bermain basket di kursi roda



Pada tahun 2001, Kenichi-kun mengikuti audisi mencari bintang "New Style Audition" yang diadakan agensi Horipro, bersama Majalah Boon, dan pusat perbelanjaan Parco
. Ia mengalahkan 16.572 peserta lain dan dipilih menjadi pemenang pertama.
Pada tahun yang sama, ia menjadi model untuk promosi pusat perbelanjaan Parco.



Karier layar perak dimulainya tahun 2003 dengan film berjudul Akarui Mirai (Bright Future). Tahun 2005, Kenichi-kun lulus audisi film Otokotachi no Yamato. Produser Haruki Kadokawa yang sukses menemukan aktris seperti Hiroko Yakushimaru dan Tomoyo Harada begitu terkesan sewaktu melihat Ken'inchi, dan memberikannya
peran Kamio Katsumi dalam film Yamato. Selanjutnya,Ken'ichi juga diikutsertakan dalam dua judul film produksi Haruki Kadokawa, Aoki Ōkami Chihate Umi Tsukiru Made
dan Tsubaki Sanjūrō. Pada tahun 2006 namanya mencuat setelah membintangi film Death Note sebagai L. Dia juga banyak bermain dalam Film, Serial Drama, dan Pengisi suara sebagai Dewa Kematian Jealous (Death Note).


Film yang di bintangi kenichi


* Bright Future (2003) - sutradara: Kiyoshi Kurosawa
* Kanzen naru Shiiku Himitsu no Chikashitsu (2003)
* Guuzen Nimo Saiaku na Shounen (2003)
* The Locker 2 (2004)
* Kamachi (2004)
* Winning Path (2004)
* Shibuya Kaidan 2 (2004)
* The Taste of Tea (2004)
* Linda Linda Linda (2005) sebagai Makihara
* Nana (2005) sebagai Shin (Shinichi Okazaki)
* Furyō Shōnen no Yume (2005)
* Kasutamu-meido 10.30 (2005)
* Otoko-tachi no Yamato (2005) sebagai Katsumi Kamio (15 tahun)
* Oyayubi Sagashi (2006)
* Death Note (2006) sebagai L
* Death Note: The Last Name (2006) sebagai L
* Ten Nights of Dream (2007)
* The Blue Wolf: To the Ends of the Earth and Sea (2007) sebagai Juchi
* Shindō (2007)
* Dolphin Blue: Fuji, Mou Ichido Sora e (2007)
* South Bound (2007)
* Tsubaki Sanjūrō (2007)
* L: Change the World (2008)


Serial drama

* Gokusen musim tayang I (NTV, 2002)
* Gokusen Special Sayonara 3-nen D-gumi -Yankumi Namida no Sotsuyō Shiki ((NTV, 2003)
* Kids War 5 (CBC, TBS, 2003)
* Be-Bop Highschool (TBS, 2004)
* [[Division 1 Stage 15 "Odaiba Bōken Ō SP Kareshi Sensei" (Fuji Television, 2005)
* Be-Bop Highschool 2 (TBS, 2005)
* 1 Litre of Tears (2005)
* Tsubasa No Oreta Tenshitachi Dai-ni ya "Live Chat" (Fuji Television, 2006)
* Machiben (NHK, 2006) episode 1
* Sono 5-fun mae episode "Aruyo no Dekigoto" (NHK, 26 Desember 2006)
* Sexy Voice and Robo (NTV, 2007)


Awards & Nominations

* 2006 Hochi Film Awards - Best New Actor (Death Note)
* 2007 Yokohama Film Festival - Best New Talent (Death Note)
* 2007 Nominee Japanese Academy Awards for Best Supporting Actor (Death Note)
* 2007 Japanese Academy Awards - Best New Actor (Death Note & YAMATO)
* 2007 Elan D' or Awards for Rookie of the Year (won)
* 2008 2nd Asia Pacific Producer's Network Award - Best Actor (Death Note)
* 2008 1st Egaishan Taisho Movie Theatre Award (won)
* 2009 Nominee 32nd Japanese Academy Awards for Best Actor (Detroit Metal City)
* 2009 32nd Japanese Academy Awards- Most Popular Actor (Detroit Metal City)
* 2009 Nominee 3rd Asian Film Awards for Best Actor (Detroit Metal City)
* 2009 60th Television Drama Academy Awards - Best Actor (Zeni Geba)
* 2010 64th Mainichi Film Awards - Best Actor (Ultra Miracle Lovestory)


Vocal Roles

* Death Note (Anime) (2006) as Gelus.
* Detroit Metal City (OVA) (2008) as Makoto Hokazono.

Helaan...

Lagi-lagi saya sakit.

Sakit kali ini bukanlah sakit saya secara fisik, tapi sakit saya secara batin. Bukan, bukan karena cinta. Bukan pula karena tekanan sekolah. Bukan, tolonglah jangan asal menebak.

Saya rasa, saya ingin segera kabur dari rumah.

Saya tidak ke sekolah hari ini. Saya tidak siap batin untuk menyerap segala sesuatu sampai kelas berakhir. Dan kalau saja keesokan harinya kewajiban saya tidak ditagih, mungkin esok saya tidak akan ke sekolah juga. Saya ingin cepat-cepat menyelesaikan semester ini dan mendapatkan indeks bawah. Kemudian, saya akan tertawa-tawa di atas nilai saya. Saya akan menunjukkan kepada orang-orang beruntung itu bahwa hanya saya yang bisa merubah kehidupan saya, bahwa cara mereka membuat saya sadar itu salah. Bahwa saya sudah menyerah dengan segala-galanya. Bahwa saya bukan seorang dewa. Bahwa saya memang memalukan.

Namun sayangnya, tidak sekolah membuat batin saya semakin tersiksa. Mereka membuat saya tersiksa. Mereka hanyalah orang-orang beruntung yang mendapatkan kesempatan lebih dulu lahir dibandingkan dengan saya. Mereka -lagi-lagi- hanyalah manusia beruntung yang memakai predikat mereka untuk menjamah kepribadian saya. Untuk menyiksa saya.

Saya ingin segera kabur dari rumah. Saya ingin segera menyelesaikan sekolah saya dan cepat-cepat bekerja menghidupi diri saya sendiri. Saya tidak butuh apa-apa. Saya hanya butuh sendiri. Saya lebih baik sendiri, tak bersosialisasi membuat saya jauh lebih baik.

Saya ingin lenyap, serius.

Kenyataannya, saya akan menganggap saat ini adalah suatu cobaan yang sangat berat (sok berpikir positif) seolah-olah ini adalah langkah menuju kedewasaan saya. Toh, semakin lama, saya semakin kuat –ah ralat, sebenarnya saya tidak semakin kuat, semakin batu, tepatnya.

Well, sayang sekali orang-orang beruntung itu tidak mengendus seluruh bau busuk yang saya sembunyikan di dalam lemari saya.

[curcol (again!?)] Masa-masa SMA

Oke, kalau seandainya saya mendapati anak kuliahan yang tengah termenung memikirkan masa-masa SMA-nya yang (katanya) indah. Maka dalam hati saya, saya akan mengumpat sejadi-jadinya, "Silakan kau ambil MASA-MASA SMA sialanmu itu! Aku rela, kok!"

Seringkali, saya agak-agak sinis dengan orang-orang yang mengejar-ngejar nilai, seolah-olah nilai merupakan tambang emas yang amat berharga --bagaimanapun resikonya, asal nilai mereka bagus, maka mereka akan melakukan segala macam usaha, apapun itu. Jujur, saya benci menjadi individu yang seperti itu. Munafik. Nggak murni dan segala macam kandidat saya nobatkan kepada mereka. Meskipun, sebenarnya, saya juga salah satu dari orang-orang nggak murni itu.

Munafik banget, kan?

Ya, saya tahu, saya juga seorang munafik. Dan saya juga membenci diri saya sendiri.

Saya memang ingin keluar dari kebelengguan dunia hitam putih ini, namun, saya tak bisa karena keterpaksaan ini merupakan takdir saya. Saya harus menerima, menerima meski tak ingin untuk menerima. Menerima meski saya ingin muntah dengan apa yang saya lakukan.

Saya jujur saja, benci sekolah. Menurut saya, sekolah nggak begitu berguna. Saya setiap hari menghadiri tiap-tiap kelas. Dan, apa yang saya peroleh? Saya tidak menyimak, saya tidur dalam diam, saya mencari keasikan saya tersendiri. Dan toh, pada saat ulangan, saya kembali dalam diri saya yang mengejar-ngejar nilai.

Kumpulan orang-orang munafik.

Saya lelah dengan tugas. Saya lelah mendengar decitan spidol. Saya lelah dengan buku-buku paket yang berat, yang kelihatannya lebih berguna untuk menghantam kepala kosong saya.

Saya frustasi, depresi, tertekan dan segala hal yang ingin saya ungkapkan.

Sekali lagi, ambil SAJA masa-masa SMA SIALANMU itu!, saya sama sekali tidak menikmatinya.

[curcol] Rain Affair


“Nath, kalau waktu itu nggak hujan, apa kamu bakal menikah denganku?”

Hem, sepuluh menit yang lalu –mungkin, saya menghabiskan novel metropop berjudul Rain Affair, karyanya Mbak Clara Canceriana, sesosok wanita yang nggak saya kenal (ngomong-ngomong, kenapa kita membahas ini?). Well, saat ini saya lagi nggak pengen membahas gimana plot, gaya bahasa, penokohan dan bla bla bla, yang notabene (cie elah) sering saya bahas setelah saya membaca suatu karya sastra.

Intinya, saya bakal membahas kalimat terakhir dalam epilog novel tersebut, yaitu, tidak lain dan tidak bukan adalah kalimat yang saya tulis di awal artikel blog ini. Well (diiming-imingi dengan ‘well’ lagi), saya pikir, itu bukanlah pertanyaan yang pantas untuk ditanyakan.

Saya pikir semuanya adalah takdir. Kalau saja dia berkata seperti itu, maka saya turut bertanya dengan maksud yang sama kepada pacar saya, “Sayang, kalau seandainya waktu itu aku nggak masuk kemudian, apa kita nggak bakal pacaran?” atau mungkin lebih jauh lagi, mama aku bakal nanya ke papa aku, “Pa, kalau seandainya mama kuliah dan nggak jadi kerja di hotel, apa papa bakal nikahin mama?”. Lebih jauh lagi, “Kek, kalau seandainya mama dan papa nenek nggak jadi menikah, apa kakek bakal nikahin nenek?”

Runyam banget, kan?

Kalau seandainya semua orang nanya gitu, dan tau-taunya takdir berubah. Gila aja! Takdir berubah dikit, saya nggak bakal lahir di dunia ini. Jadi, buat apa hal-hal yang menyangkut takdir itu dipertanyakan?

Eh eh, udah deh, pusing saya…

Memang paling asoy curcol di blog XD.

Diary 1

semenjak putus dengan Mr. M W A, hidupku jadi agak-agak hampa *serius*. kalo biasanya sehabis pulang skolah kami ngobrol lewat telpon, sekarang sudah tidak lagi. benar-benar 'sepi' deh pokoknya.
tapi sjak putus, sepertinya dia lebih ceria. lebih terbuka dengan teman-temannya. makanya, keputusan ini kayaknya lumayan tepat.